Mengatasi Disentri Pada Anak

1 min read

Disentri merupakan penyakit yang penyebabnya adalah  peradangan pada usus atau sistem pencernaan akibat infeksi, gejalanya ditandai oleh buang air besar yang encer dan berscampur dengan darah juga lendir. anak-anak sangat rentan terhadap penyakit tersebut. Pada beberapa kasus, disentri bisa menjadi penyakit yang membahayakan nyawa, bila tidak ditangani dengan segera.

bakteri dan parasit disentri itu ditularkan melalui makanan atau minuman terkontaminasi, melalui tangan, juga peralatan makan yang kotor. kebanyakan penyakit ini menyerang orang-orang yang tinggal di daerah dengan tingkat kebersihan buruk.

Banyak sekali orang tua yang bingung dengan perbedaan diare dan disentri. Disentri adalah kumpulan gejala penyakit seperti diare berdarah, lendir dalam tinja, dan nyeri ketika buang air besar. Lalu, diare sendiri secara definitif merupakan buang air besar dengan frekuensinya berlebihan dengan bentuk tinja yang lebih encer.

15% diare pada balita adalah penyakit disentri. Pada bayi, dehidrasi yang disebabkan karena penyakit tersebut menjadi salah satu penyebab kematian balita di Indonesia. Pemberian ASI dan asupan nutrisi lain secara rutin merupakan salah satu penanganan yang harus dilakukan ketika bayi terjangkit disentri.

Ada dua jenis utama disentri. Pertama bernama amoebic dysentery (disentri amoeba) atau intestinal amoebiasis yang disebabkan oleh sel tunggal, parasit mikroskopik dari usus besar. Jenis kedua adalah bacillary dysentery, yang disebabkan oleh bakteri invasif. Dua jenis disentri tersebut umum terjadi di negara-negara tropis.

Disentri berawal dari kenaikan suhu tubuh menjadi 38 sampai 39 derajat Celsius yang berlangsung hingga 5 hari. Gejala umumnya adalah rasa sakit saat buang air besar dan feses encer bercampur lendir dan darah, lalu ada pula tanda-tanda lainnya yaitu lelah, dehidrasi, mengeluarkan gas, desakan untuk buang air besar, kram dan kembung, demam tinggi tiba-tiba, berat badan menurun, dan muntah,

Muntah dapat menyebabkan dehidrasi parah dan bisa memicu kematian bila tidak secepatnya ditanggulangi. Ciri-ciri dehidrasi diantaranya adalah mulut kering dan mata sayu. Anak akan merasa rewel, haus, juga gelisah. Anak juga tidak bisa memproduksi air mata atau urin. Urin kadang berwarna sangat gelap dan pekat.

Anak penderita disentri rata-rata bisa sembuh dengan sendirinya setelah 3 sampai 7 hari, dan tidak memerlukan obat-obatan khusus. Memperbanyak asupan cairan dan meminum larutan elektrolit (oralit) untuk menghindari bahaya dehidras bisa jadi langkah untuk perawatannya. Penggunaan obat diare seperti loperamid, sangat tidak disarankan karena akan memperparah kondisi. sebaiknya Anda dapat menggunakan obat diare jenis lain khusus anak atau hanya mengkonsumsi larutan elektrolit.

Disentri juga bisa diatasi dengan gaya hidup sehat dan sanitasi yang bersih untuk meminimalisir risiko kontaminasi bakteri dan parasit disentri, seperti  rutin mencuci tangan dengan sabun setelah melakukan kegiatan apapun, menghindari memakai handuk bergantian dengan orang lain, dan mencuci secara terpisah pakaian dan alat makan orang yang terinfeksi disentri dari yang pemilik lainnya

Selain langkah-langkah di atas, orang tua harus memperhatikan bagaimana kondisi kesehatan sang anak. Bila mengalami masalah gizi dan sering terkena penyakit batuk pilek, campak, infeksi virus lainnya, maka kemungkinan berulangnya diare akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh karena penurunan kekebalan tubuh si kecil.

Apabila gejala tidak membaik dan malah semakin buruk dalam beberapa hari, segeralah hubungi dokter untuk perawatan lebih lanjut. Berikan semua informasi yang dibutuhkan agar dokter mampu membantu prosses penyembuhan secara efektif.

 

Deretan Makanan Sehat yang Bagus Dikonsumsi Selama Masa Kehamilan

  Ketika mengandung, sudah seharusnya para ibu hamil selalu ingin menjaga kandungan agar tetap dalam keadaan sehat. Dan salah satu cara untuk menjaga kesehatan...
admin
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *